Pilar Pariwisata Berkelanjutan

Posted on

Pilar Pariwisata berkelanjutan itu adalah Economy, Culture, Social & Enviromental. Pariwisata yang berjalan baik mampu menaikan taraf sosial ekonomi masyarakat. kemudian budaya menyusul sebagai atraksi yang bilamana dikemas kreatif akan menjadi kekuatan unik. Ada hal yang menarik yang ketika pilar ke empat, Enviromental hanya bingar sebagai wacana di forum-forum diskusi.

Selanjutnya kita melhat sampah bergelatakan tidak terurus, infrastruktur dibangun tanpa mengedepankan asfek ekologi, pencemaran tanah dan laur dan debat Panjang tentang siapa yang paling bertanggung jawab.

Sementara masalah lingkungan yang paling dekat dengan pandangan kita adalah sampah. Permasalahan sampah ibarat mata rantai lingkaran setan yang tidak pernah habis. Kemudian kita masih duduk berdiskusi dan setiap detik sampah meracuni ekosistem lingkungan kita.

Ada Apa dengan Zero Waste

Sebuah wacana besar bergulir, dan memasuki usianya yang sudah setahun, Zero waste. Program ini menjadi prioritas unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kemudian, program ini hanya tinggal program tak mampu menyentuh akar rumput. Selanjutnya, kita masih harus mengurut dada melihat beberapa objek wisata prioritas penuh dengan sampah. Ada kesan program ini berjalan sendiri-sendiri, dan tidak memecahkan masalah utama.

Mungkin, Kita sebaiknya tidak merasa malu-malu untuk mencari sumber referensi, seperti yang dilakukakn pemimpin daerah lainnya. Beberapa figure seperti Ridwan Kamil atau bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Bupati Banyuwangi ini, terbukti mampu menyulap Banyuwangi menjadi Kawasan wisata terkemuka yang menerapkan keempat pilar pariwisata tersebut.

JIka kita menarik benang merah tidak efektifnya solusi penanganan  sampah dan limbah, kalau tidak ingin dikatakan gagal. Tentunya pemerintah sebagai regulator menjad leading sektor untuk melakukan tindakan yang lebih serius. Kemudian langkah selanjutnya adalah mensinergikan program unggulan tersebut hingga ke lapisan terbawah, bila diperlukan sampai pada unsur pemerintah paling bawah seperti RT. Dan tentunya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Peran dari Pemimpin strata bawah seperti Kepala Dusun, Kepala Desa dan juga Para Pemuka Agama berperan aktif dan ikut bergerak. Peran Organisasi wisata Para pelaku wisata yang secara langsung akan berpengaruh besar.

Kembali pada inti pokok permasalahan utama sampah, bahwa titik  ada pada kesadaran msayarakat. Masyarakat kita sudah terpola mindsetnya, menyatakannya sampah asebagai permsalahan kecil dan sepele. Buktinya, Kita masih menemukan sampah dipojok-pojok lapangan umum, selokan, sungai bahkan diobjek-objek wisata.

Solusi yang harus diambil

Edukasi tentang bahaya dan mamfaat sampah perlu digalakan. Baik itu dilakukan pemerintah, menggandeng komunitas pemerhati lingkungan, akademisi, maupun relawan. Pemilahan sampah dari sumber langsung, pengenalan sampah organik dan anorganik, serta nilai ekonomi yang terkandung dalam sampah.

Ada beberapa kesan yang kita tangkap bahwa pandemi menjadi penghalang tidak terlaksananya program ini. Tetapi membiarkan masalah ini berlarut, mungkin dikedepan harinya kita akan mengenal satu pandemi baru yang bernama “sampah demik”.

Kita masih bersyukur beberapa kawan-kawan pemerhati lingkungan masih berjuang dengan semangat. Program dibawah tanah terus bergerak bermodalkan semangat dan gotong royong, setidaknya membantu mengurangi permasalahan. Walaupun, kegiatan volunteerism yang dilakukan tidak akan maksimal tanpa dukungan Bersama.

Tentunya kita tidak menginginkan pariwisata indah Lombok tercemar hanya karena kesalahan tata kelola sampah. Menjaga pilar keempat pariwisata berkelanjutan adalah sebuah kewajiban bersama, sebagai bentuk tanggung jawab moral. Saatnya berhenti untuk saling menyalahkan dan kembali mengambil cangkul yang bernama eksekusi dan dikerjakan saat ini juga. Kita tidak bisa menunggu saat ikan di laut memakan plastik, banjir karena selokan/sungai tersumbat, dan penyakit-penyakit akibat pembiaran sampah dilingkungan kita.

Pasek Ariatna

Alam lebih tua dari manusia, Manusia merasa berkuasa dan merusaknya.

 

Pemerhati Lingkungan/Ketua LCC/Koordinator Perkumpulan Insan Pariwisata